Sejarawan JJ Rizal Calon Wali Kota Depok

JJ Rizal

JJ Rizal. TEMPO/Imam Sukamto

Tahapan pemilihan Wali Kota dan wakil Wali Kota baru akan dimulai pada Februari 2015, tetapi beberapa kandidat yang dicalonkan sudah bermunculan. Salah satunya adalah JJ Rizal. Melalui akun Twitternya, JJ Rizal tampak siap menerima dukungan untuk melenggang ke pemilihan orang nomor satu kota Depok, Jawa Barat.

JJ Rizal, Sejarawan dari Universitas Indonesia (UI), bertekad maju sebagai calon Wali Kota Depok periode 2015-2020. Saat ini JJ Rizal memulai gerakan sosial dengan tema kampanye #SaveDepok di jejaring media sosial Twitter. Hal ini berawal dari perang kata-kata antara Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring dengan JJ Rizal pada Ahad (24/8) lalu.

Sabtu (30/8) pukul 16.00 WIB, JJ Rizal mengundang para relawan dan simpatisan yang ingin mendukung gerakan ini di Permata Regency Sektor Jade Blok E 11 Nomor 20, Kota Depok, Jawa Barat

Para netizen di Twitter banyak yang mendukungnya baik dari warga Kota Depok maupun warga di luar Kota Depok. Beberapa tokoh yang ikut memberikan dukungan misalnya Fadjroel Rachman dan Bonnie Triyana.

Profil JJ Rizal (Akun twitter di @JJRizal)

Lahir di Jakarta, 1975. Menyelesaikan kuliah di Jurusan Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah lulus pada 1998 dengan skripsi “Sitor Situmorang: Biografi Politik 1956-1967”, ia mendirikan Penerbit Komunitas Bambu (Kobam) yang menjadi sedikit dari penerbit di Indonesia yang secara khusus menggarap buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora. Penerbit ini berkembang dan pada 2005 membuat sayap penerbitan Masup Jakarta yang khusus menerbitkan buku-buku sejarah dan sastra Jakarta, lantas penerbit Ka Bandung pada 2008 yang fokus pada penerbitan buku-buku bertema Jawa Barat.

Selain menjadi editor buku, ia juga membuat tulisan-tulisan sejarah di berbagai media massa terkemuka, seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Majalah Tempo, Jakarta Post, Majalah Gatra, Majalah Trust, Intisari, Koran Sindo, Jurnal Perempuan. Termasuk membawa tulisan sejarah ke ranah media populer gaya hidup, seperti Esquirer, U-magazine & Travelounge. Selama 2001 – 2006 ia menjadi kolomnis sejarah Batavia-Betawi-Jakarta di sebuah majalah Internasional yang berpusat di Belanda, MOESSON Het Indisch Maandblad di Belanda.

Pada 2009 ia mendapat Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta. Tulisannya tentang Junghuhn di National Geographic Indonesia terpilih sebagai “The Best International 2010” oleh National Geographic International Magazine menyisihkan ratusan artikel dari 36 majalah National Geographic di luar Amerika. Kemudian pada 2011, ia mendapat Jakarta Book Awards IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia) Jakarta sebab dianggap telah “share knowledge and change lives through books”. Ia juga dilibatkan sebagai sejarawan dalam tim investigasi yang dibuat oleh Pemrov. DKI dan MUI DKI Jakarta dalam kasus Kerusuhan besar Makam Mbah Priok di Jakarta Utara. Termasuk keterlibatannya dalam tim kampanye sejarah semur sebagai kuliner pusaka Nusantara yang dilakukan kecap Bango.

Profil dan wawancaranya telah dibuat oleh pengamat sastera Melanie Budianta dan sejarawan Hilmar Farid dalam Jurnal Inter Asia Studies 2011. Julia Suryakusuma, penulis perempuan terkemuka, pun menulis profil JJ Rizal di harian The Jakarta Post pada 2010. lantas pada 2010 penulis perempuan terkemuka Julia Suryakusuma di Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com/news/2010/11/05/jj-rizal-understanding-today-searching-yesterday.html).

Karyanya telah dibukukan dalam, Politik Kota Kita (Penerbit Kompas, 2006), Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (Komunitas Bambu, 2007), Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo (Ombak, 2008), dan Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie dan Nasionalisme. Karya puisinya dibukukan dalam Pura-Pura dalam Perahu (1998). Ia juga menjadi tim penulis buku muatan lokal DKI Jakarta Ragam Budaya Betawi (2001) dan kelompok kerja pengkajian muatan lokal DKI Jakarta yang dibentuk LKB (lembaga Kebudayaan Betawi) pada 2003. Dalam dunia musik ia membentuk kelompok musik etno NgeK yang telah mengeluarkan album Wajib Ngaji (1996). Ia pun membuat film pendek Tayang Weta Un Lalan: Perjalanan Sejarawan Adrian B Lapian (2009) dan Memuja Rare Angon: Sekilas Tradisi Layangan Bali (2010). Kini selain menjadi kolomnis di majalah Djakarta!, narasumber tetap untuk acara rutin Jakarta Punya Cerita pada Jum’at kedua dan keempat setiap bulan di Sindo Radio FM (@SindoRadioFM), ia menjadi Direktur KPK (Kelompok Penerbit Kobam), sambil kerja sambilan mengembangkan hobinya pada sejarah.

Sumber : komunitasbambu.com/blog/2010/08/20/profil-jj-rizal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s